PU3

Mengungkap “Bahasa Seni” dalam Sajak

Oleh Hasan Baseri Budiman

Sajak merupakan lukisan imaginasi yang terbentuk daripada susunan kata yang digubah dalam bahasa yang indah. Sebagai karya estetika, sajak merupakan karya seni yang memiliki imej keindahan yang mampu memukau jiwa apabila kena dengan gaya gubahannya, termasuklah paduan harmonis seni bahasanya. Bahasa ialah elemen yang menentukan jati diri penyair. Penyair yang kehilangan seni bahasanya akan kehilangan segala-galanya. Salah satu tugas penting seseorang penyair adalah untuk terus memelihara, memperkaya dan mempertahankan bahasanya kerana seni berbahasa ialah perjuangan untuk menegakkan jati diri sajak.

Bahasa yang indah bagi penyair sepatutnya bahasa yang boleh memberikan kebebasan kepadanya untuk mengembangkan dan mengolahnya menjadi media komunikasi yang mudah dan lancar. Selama ini pun, keadaan yang diperlukan oleh penyair untuk menghasilkan sajak yang bagus hanya lahir daripada bahasa yang merdeka, yang bebas, yang lentur, yang tidak terkurung dan tidak terperangkap dalam pelbagai aturan dan tatabahasa yang kaku dan beku. Sajak “Kekasih” karya Usman Awang, misalnya, tidak mungkin lahir sebagai sajak yang puitis kalau penggunaan bahasanya tidak merdeka.

Akan kupintal buih-buih
menjadi tali
mengikatmu

Akan kuanyam gelombang-gelombang
menjadi hamparan
ranjang tidurmu

Akan kujahit bayu gunung
menjadi baju
pakaian malammu

Kemerdekaan bahasa sajak tersebut lahir daripada jiwa syahdu penyair Usman, tentang apa-apa yang dilihat matanya, dirasakan dan dicecap lidah dan kulitnya, yang dicium hidungnya, difikirkan otak dan sesuatu yang disimpan dalam hatinya. Ekspresi jiwa itulah yang telah membolehkan Usman menghadirkan rasa indah dan rasa kagum untuk berkongsi bersama-sama yang sudi menikmatinya. Sajak yang indah seharusnya berkomunikasi secara langsung dengan alam.

Oleh itu, seni bahasa sajak yang mengapresiasi unsur alam secara puitis tidak harus disalahtafsirkan jika ada waktunya disusun dalam sebaris kata yang agak janggal. Hal ini dikatakan demikian kerana seni bahasa sajak sebenarnya sudah dibekalkan dengan kebebasan penyair, iaitu lesen atau izin tidak tertulis yang diberikan kepada penyair untuk bebas memanipulasikan kata demi menimbulkan kesan tertentu dalam karyanya, walaupun terpaksa menyimpang daripada kaedah dasar bahasa yang mungkin melibatkan makna kosa kata, bunyi bahasa, makna atau tatakalimat.

___

Rencana ini dipetik daripada Dewan Bahasa Februari 2012.

One thought on “Mengungkap “Bahasa Seni” dalam Sajak”

Leave a Reply